Kamis, 26 Juli 2012

BOSAN HIDUP

Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."



Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."

"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."



Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."



Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.



Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.



"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."



Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran yang paling enak dan mahal. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!



Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali. "Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang."



Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?"

Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.




Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."



Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu hidup.

*sumber: email yahoogroup QLT*


- Posted using BlogPress from my iPad

Senin, 30 April 2012

Semua peristiwa yang terjadi pasti alasannya..

Mungkin kita sering banget denger kalimat ini..

"Tidak ada yang namanya kebetulan.."
"Semua peristiwa yang terjadi pasti alasannya.."

Kebetulan yang baru terjadi adalah ketika gw memutuskan untuk kembali meneruskan membaca Quantum Life Transformation karangan Adi W. Gunawan.. Karena sempat beberapa hari berhenti membaca, seperti biasa gw selalu balik membaca beberapa halaman sebelum letak si pembatas buku.. untuk sekedar mengingatkan sampai dimana kemarin..

Di sela-sela sedang mengulang, tiba-tiba ada bbm masuk.. dan seperti biasa lagi.. setelah mengecek bbm, biasanya mengecek twitter.. ada sebuah artikel yang di retweet oleh seorang kawan yang berjudul "Saya takut hidup di Jakarta.." Iseng, buka agh..

Setelah membaca, ternyata isinya adalah 3 peristiwa yang tidak mengenakan yang dialami oleh sang penulis yang semuanya berakhir dengan keributan..

Dan setelah membaca artikel tersebut, gw langsung inget pada bacaan gw (yang mengulang tadi).. Ada pernyataan..
"Setiap kejadian yang kita alami sebenernya bersifat netral. Pikiran kitalah yang memberi makna pada kejadian itu. Makna ini bisa positif dan bisa negatif.." 
Dan di saat yang sama, gw teringat lagi tulisan gw beberapa hari yang lalu tentang Ya, udah..

Seperti tersadarkan, bener juga.. Seandainya penulis tersebut bereaksi mengalah saja.. dan "Ya, udah".. mungkin semua keributan bisa terhindari.. dan perasaan negatif yang sekarang dirasakan sang penulis itu mungkin tidak ada..
Seandainya si penulis hanya "Ya, udah".. tapi tetap mengambil manfaat atau pelajaran dari kejadian tersebut, bahwa lebih baik bersabar daripada membuang waktu dan jadi bad mood.. atau pelajaran apapun lah..
Tapi mungkin juga, dengan tulisan tersebut dapat menyadarkan beberapa orang, mungkin guru, orangtua, pembina pramuka, pemimpin agama dan beberapa pemimpin di negeri ini.. untuk menjadikan peristiwa ini sebagai contoh yang tidak baik.. Sehingga kerugian yang dialami sang penulis tidak terulang pada oranglain..
Dan mungkin itu alasan peristiwa tersebut terjadi pada sang penulis.. sebagai pembelajaran untuk diri sendiri dan untuk orang lain..


Kebetulan-kebetulan yang menarik.. 
kalau tidak ada bbm masuk dan tidak jadi buka twitter..
dan mungkin artikel tersebut berlalu begitu saja, tidak terbaca.. 
atau mungkin artikel tersebut tetap terbaca tapi tidak nyambung dengan pernyataan dalam buku itu karena mungkin gw dah lupa.. 


Jumat, 27 April 2012

Live In The Moment

Thesiss ohh thesis...
Banyak hal yang gw petik ketika mengerjakan thesis itu..

Waktu ngejalaninnya rasanya bener-bener pengen nyerah.. Yang namanya nangis itu udah seperti minum obat.. Pagi, siang, malam.. Nangis terus...Stress.. Ga bisa konsentrasi..Semua yang ditulis rasanya salah..

Salah satu hal yang gw dapet ketika thesis adalah Live In The Moment..

Hari itu sudah dijadwalkan untuk simulasi sidang.. Simulasi sidang ini dilakukan di depan teman-teman.. Tujuannya untuk tau dimana kekurangan dan kemungkinan pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji.. Biasanya teman-teman yang sudah latihan sidang jadi lebih terbayang tentang pertanyaan yang mungkin muncul dan sudah mempersiapkan jawaban dari pertanyaan itu..

Note: Sidang thesis di MBA ITB mungkin berbeda dengan sidang thesis di Universitas atau Perguruan Tinggi lainnya.. 

Hari itu, ketika mulai simulasi sidang.. Dalam diri gw ada keyakinan bahwa thesis gw itu ga sempurna.. Banyak bolongnya, ada beberapa salah ketik.. Banyak celah banget untuk diserang..

Berangkat dengan ketakutan ini, gw memulai presentasi gw..
Hasilnya bisa ditebak.. Kacau.. Muka-muka bingung dari teman-teman yang datang, makin membuat down.. Dan terjadilah.. Nangis lagi.. Airmata bener-bener ga bisa dibendung.. Rasa tertekan ini bener-bener ga bisa dikendalikan..

Singkat cerita simulasi sidang berakhir.. Banyak masukan dari teman-teman.. Ini itu yg harus diperbaiki.. kemungkinan pertanyaan dan apa yang perlu dilakukan.. Setelah selesai, simulasi sidang, kami memutuskan pergi ke sebuah cafe.. Makan malam, sekalian memperbaiki slide presentasi dan bertemu sepupu dari seorang teman.. Gobind, sang pengarang buku Happiness Inside..

Entah mulainya bagaimana.. agak lupa kronologisnya.. Di sela-sela obrolan, Gobind bertanya..

"Kamu sedang ada masalah?.. detik ini?" dan dia mengulang pertanyaan itu sampai tiga kali pada bagian "detik ini?".. Gw terdiam.. Bingung..

Trus gw jawab.. "Ada, ini.." sambil menunjuk monitor laptop gw..

Dan dia menjawab lagi.. "Itu masalah sekarang atau nanti?"..

Lalu dia menjelaskan sedikit tentang bagaimana waktu (masa depan) menurut science.. dan gw kembali lupa pasti isinya apa.. Tetapi pada intinya..

"Masalah itu timbul karena ketakutan kita akan sesuatu di masa depan yang belum pasti.. Jadi sekarang yang bisa dilakukan adalah kerjakan dengan baik apa yang ada di depan kita.." sambil dia memperagakan gerakan mengetik..

Bener juga..
Kenapa thesis gw rasanya kacau.. Karena ketika gw ngerjain, gw penuh dengan ketakutan.. Takut salah... Takut nanti ditanya ini itu gara-gara tulisan gw.. Takut ditolak kembali sama dosen pembimbing..
Seandainya, gw bisa sedikit menghilangkan semua ketakutan dan kecemasan gw.. dan mengerjakan saja apa yang ada di depan gw, saat ini.. Yak, mungkin semuanya akan lebih baik..

Tapi selesai.. Besoknya gw panik lagih.. dan dalam kepanikan.. seperti biasa.. gw nge-bbm salah satu teman yang tau benar isi thesis gw.. dan biasanya di bbm itu isinya, pertanyaan dengan panik.. "kalo gini gimana.. kalo gitu ntar gimana.." dan biasanya dengan ajaib.. gw mendadak punya jawaban sendiri "mending diginiin ajah kali ya.."

Dan sang teman menjawab.. "tenang Le.. inget Live in The Moment-nya Gobind semalem.."

Hehehehe.. Bener juga. Baru semalem sadar.. Udah lupa lagih..

Dan setelah itu, dengan prinsip itu.. gw ngejalanin moment persiapan itu dengan lebih tenang.. Mempersiapkan yang terbaik yang bisa gw lakuin.. Daripada malah fokus memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif malah menciptakan ketakutan, nangis.. buang waktu, hilang konsentrasi..

Dan selesailah semuanya..
Pada saat sidang-pun.. Ya sudah.. saat ini gw sedang sidang.. Jalanin saja.. Berikan yang terbaik, nikmati.. Karena saat ini (saat sidang itu)tidak akan terulang kembali..