Jumat, 28 September 2007
Sabtu, 15 September 2007
Cinta dilihat dari ilmuan

PADA tahun 1932 Albert Einstein menulis surat kepada Sigmund Freud, menanyakan pendapatnya, ''apa yang dapat dilakukan manusia agar terhindar dari kutukan peperangan''. Pertanyaan itu barangkali karena dunia pada saat itu masih dihantui oleh akibat Perang Dunia I yang mengejutkan manusia Eropa, justru akibat kerusakan dan penderitaan yang harus ditanggung oleh mereka.
Sebagai ahli ilmu jiwa, Freud menjelaskan dalam surat esainya yang terkenal, ''Mengapa Perang?'' Dia menguraikan tentang adanya dua insting pokok manusia, yakni insting cinta dan insting benci. Insting cinta itu baik karena manusia peduli dan mencintai sesamanya. Ini mengandaikan adanya kepedulian terhadap hidup orang lain, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Tetapi insting ini juga sekaligus membawa insting kebencian kalau sikap cinta kasihnya terhadap orang lain disertai dengan niat memiliki yang dicintainya itu. Dengan itikad memiliki maka terjadilah penguasaan, diktator, penjajahan dari si pencinta kepada yang dicintai. Dan kalau perasaan tidak bebas dari yang dicintai ini memberontak, maka terjadi konflik. Dan konflik ini selalu diakhiri dengan ''adu kekuatan''. Siapa yang kalah akan menjadi ''budak'', dan yang menang menjadi ''majikan''. Maka mulailah penderitaan manusia.
***POKOK pikiran semacam itu dapat dilihat dalam praktek sehari- hari kita. Orangtua yang mengatakan dirinya amat mencintai anak- anaknya, seringkali berubah menjadi diktator orangtua terhadap anak. Orangtua ingin ''membentuk'' anak menurut kemauannya sendiri. Anak harus menjadi dokter agar hidupnya kelak kecukupan dan bahagia, meskipun si anak ngotot mau masuk fakultas sastra. Kebahagiaan siapakah yang ingin diwujudkan? Kebahagiaan orangtua atau kebahagiaan anak?
Dalam koran diberitakan, ada seorang lelaki yang telah beristri mencintai seorang gadis. Dan cintanya terbalas. Tetapi ketika mengetahui si gadis menjalin hubungan cinta dengan lelaki lain yang masih lajang, berkobarlah rasa bencinya dan tega membunuh si gadis. Insting cintanya telah berubah menjadi insting merusak dan membenci, karena lelaki beristri tadi ingin memiliki si gadis bagi kesenangannya sendiri.
Ada juga sekolah yang ambisius ingin menduduki ranking sepuluh besar sebagai sekolah terbaik di seluruh Indonesia . Maka demi ambisinya itu pimpinan sekolah menjadi diktator atas murid-muridnya. Dijalankan disiplin keras dan paksaan belajar yang di luar kewajaran. Hari-hari murid, di sekolah atau di rumah, harus diisi dengan belajar dan belajar. Murid-murid dijadikan korban ambisi sekolah.
Ajaran-ajaran moral terbesar dalam sejarah umat manusia selalu menekankan adanya kasih sayang, cinta, antara sesama manusia. Cintailah orang lain seperti saudaramu, meskipun ia lain ras, lain kelas sosial, lain bangsa, lain agama, lain usia. Cinta menyatukan, mendamaikan, membahagiakan, menyenangkan. Kebencian melahirkan konflik, kekerasan, perusakan, kebinasaan umat manusia. Cinta itu Hidup, Benci itu Mati.
*** SEPERTI dikatakan Freud, naluri cinta itu berubah menjadi benci kalau disertai nafsu memiliki, yaitu dijadikan bagian kepentingan dirinya sendiri. Pemikiran ini dikembangkan oleh Erich Fromm dalam bukunya yang terkenal, Memiliki dan Menjadi. Cara hidup ''memiliki'' adalah naluri cinta yang berakhir dengan penderitaan, kerusakan, kebinasaan dan kematian dari yang dicintai. Cara hidup ''menjadi'' inilah hakikat cinta manusia yang sesungguhnya. Kita mencintai seseorang bukan demi kepentingan semata-mata, tetapi demi yang kita cintai agar tumbuh berkembang mencapai kebahagiaannya sendiri.
Dengan menolong orang lain, kita menjadi seorang penolong. Dengan memberi kepada orang lain, kita tumbuh menjai seorang pemberi. Dengan melakukan kebaikan terhadap orang lain, diri kita tumbuh sedikit menjadi ''orang baik''. Nafsu memiliki ini berpusat pada kepentingan diri sendiri. Dengan memiliki kita menguasai dan bebas mempergunakan kepemilikan kita buat ''kebahagiaan'' kita sendiri. Dalam cara mencintai dan cara hidup ini, maka harus ada yang menjadi korban kepemilikan. Anak menjadi korban ambisi orangtua, si gadis menjadi korban nafsu seksualitas lelaki beristri, murid-murid jadi korban perburuan ranking nasional. Siapakah yang sebenarnya ''bahagia?" Kita mencintai anak-anak kita justru karena sadar bahwa mereka adalah manusia dengan karakter dan bercita-cita lain dengan kita orang tua. Kewajiban cinta kita pada mereka adalah membantu mewujudkan apa yang diinginkan.
*** MENCINTAI, menolong, membantu, berbuat baik, kepada orang lain bisa berubah menjadi tindakan diktator dan berakhir dengan jatuhnya korban percintaan, kalau kondisi dan kebutuhan yang kita cintai tidak diperhitungkan. Mencintai orang lain, berbuat baik untuk orang lain, ternyata tidak semudah yang kita duga. Mencintai dan berbuat baik itu bukan sekadar niat dan tindakan, tetapi juga dengan pengenalan, pengetahuan, pengorbanan, strategi terhadap yang kita cintai. Kalau tidak demikian, maka cinta bisa berubah menjadi malapetaka bagi yang kita cintai.
Kalau Anda jatuh cinta, Anda ingin tahu rincian hidup yang Anda cintai (ketika bertemu pertama kali di kereta api). Bagaimana riwayatnya, keluarganya, bintangnya, kesehatannya, cita-citanya. Dan Anda mempergunakan tetek bengek informasi itu untuk menyusun strategi bagaimana lebih jauh menaklukkan hatinya. Kalau kita mencintai orang miskin, orang menderita stres, orang kena musibah, orang bingung, maka kita juga harus berbuat yang sama seperti kalau Anda jatuh cinta.
Surat Einstein kepada Freud memang menyangkut perang dan penderitaan serta kemungkinan lenyapnya spesies bernama manusia akibat perang di muka Bumi ini. Konflik kepentingan, agresi, pemusnahan adalah naluri kebencian manusia. Seperti cinta, manusia juga harus mengenal, memahami dan merasakan akibat kebenciannya terhadap orang lain.
Adalah Dannion Brinkley yang menceritakan pengalaman ''mati'' sampai dua kali dalam bukunya Saved by the Light, mengisahkan bagaimana dirinya merasa rendah dan hina oleh kejahatan-kejahatannya memukuli orang lain semasa hidup. Ia bukan hanya ingat detail perbuatannya, tetapi juga suasana dan perasaan si korban waktu di-aniaya. Dengan mengenal dan merasakan akibat kejahatannya, jiwa Brinkley menilai perbuatannya sendiri yang tidak baik. Mengenal dengan baik penderitaan, kebahagiaan, keinginan, kekuatan dan kelemahan yang kita cintai atau kita benci, kiranya dapat menuntun kita mencintai orang lain lebih ''baik dan benar''.
Mencintai sesama itu tidak mudah. Lebih mudah ditulis dan dianalisis daripada dijalankan. Sebab cinta itu perbuatan nyata. Dan perbuatan itu baru ada kalau ada si pencinta dan yang dicinta. Maka pengetahuan dan pengenalan ketiga unsur cinta itu harus dibenahi.
Kekasih Standar dan Kekasih Sejati
Kekasih standar selalu ingat senyum di wajahmu.
Kekasih sejati juga mengingat wajahmu ketika bersedih.
Kekasih standar akan membawamu makan makanan yang enak-enak.
Kekasih sejati akan mempersiapkan makanan yang kamu suka.
Kekasih standar setiap detik selalu menunggu telpon dari kamu.
Kekasih sejati setiap detik selalu teringat ingin menelponmu.
Kekasih standar selalu mendoakanmu kebahagiaan.
Kekasih sejati selalu berusaha memberimu kebahagiaan.
Kekasih standar mengharapkan kamu berubah demi dia.
Kekasih sejati mengharapkan dia bisa berubah untuk kamu.
Kekasih standar paling sebal jika kamu menelpon waktu dia tidur.
Kekasih sejati akan menanyakan kenapa sekarang kamu baru telpon?
Kekasih standar akan mencarimu untuk membahas kesulitanmu.
Kekasih sejati akan mencarimu untuk memecahkan kesulitanmu.
Kekasih standar selalu bertanya mengapa kamu selalu membuatnya sedih?
Kekasih sejati akan selalu menanyakan diri sendiri mengapa membuat kamu sedih?
Kekasih standar selalu memikirkan penyebab perpisahan.
Kekasih sejati memecahkan penyebab perpisahan.
Kekasih standar bisa melihat semua yang telah dia korbankan untukmu.
Kekasih sejati bisa melihat semua yang telah kamu korbankan untuknya.
Kekasih standar berpikir bahwa pertengkaran adalah akhir dari segalanya.
Kekasih sejati berpikir, jika tidak pernah bertengkar tidak bisa disebut cinta sejati.
Kekasih standar selalu ingin kamu disampingnya, menemaninya selamanya.
Kekasih sejati selalu berharap selamanya bisa disampingmu, menemanimu.
Cinta itu...
Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih. Cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi jangan terburu-buru, dan pilihlah yang terbaik.
Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang “sempurna” bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri. Dan karena itu kamu sempurna. Jangan pernah bilang “I love you” kalau kamu tidak perduli. Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya kebohongan. Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya…
Cinta bukan, “Ini salah kamu”, tapi “Ma’afkan aku”. Bukan “Kamu di mana sih?”, tapi “Aku disini”. Bukan “Gimana sih kamu?”, tapi “Aku ngerti kok”. Bukan “Coba kamu gak kayak gini”, tapi “Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya”.
Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas. Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu izinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.
Caranya jatuh cinta: jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan itu. Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersama kamu.
Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.
Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk mengetahui bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak pernah menghargainya. Kalau dia tidak “worth it” sekarang, dia tidak akan pernah “worth it” setahun lagi ataupun 10 tahun lagi. Jadi, biarkan dia pergi…….
